Anggaran Gen Z di Surabaya Belum Cair, Agung Prasodjo: Harusnya Fokus Pada Permodalan Usaha Bukan Pada Kegiatan 

Anggaran Gen Z di Surabaya Belum Cair, Agung Prasodjo: Harusnya Fokus Pada Permodalan Usaha Bukan Pada Kegiatan 

Surabaya, newrespublika-Anggaran untuk Gen Z yang telah dicanangkan Pemkot Surabaya sebesar Rp5 juta per RW ternyata sampai bulan April 2026 ini belum juga cair.

Belum cairnya anggaran Gen Z, diduga karena proposal yang masuk ke Pemkot dinilai kurang kualified .

Anggota Komisi B yang juga anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Surabaya, Agung Prasodjo mengatakan, kalau memang karena proposalnya kurang bagus mungkin kalau kita nggak tahu ya isinya, kalau itu memang isinya kegiatan itu kan outputnya nggak ada.

“Sejak awal kita kasih anggaran itu untuk kemandirian ekonomi di segmen anak muda atau Gen Z, ya untuk menambah beras dan bahan pangan, ada kemandirian bagian anak muda. Tapi kalau proposal itu tidak ada outputnya yang kita inginkan, ya sama dengan muspro,”ujar Agung Prasodjo di Surabaya, Rabu (01/04/2026).

Jadi, sambung politisi senior Partai Golkar Kota Surabaya ini, benar yang diungkapkan Walikota Eri Cahyadi ditahan dulu anggaran Gen Z, jadi harusnya lebih pelajari dulu.

Pelajari dulu apa keinginan dari anggaran yang mau diserap itu, jelas Agung Prasodjo, buat contoh pemerintah menginginkan untuk menambah penghasilan di kalangan Gen Z.

“Jadi fokusnya kesana, jangan kegiatan. Kalau kegiatan itu ya sama dengan menghamburkan uang, tidak ada output yang diinginkan dari pemerintah kota,”tegasnya.

Agung mengakui, dirinya memang belum melihat proposal-proposal yang dari Gen Z yang masuk ke Pemkot Surabaya. Tapi kalau itu seharusnya, saya ini kan pernah didatangi teman-teman dari Karang Taruna juga anak muda, yang pernah kemarin kalau tidak salah sudah dibantu oleh pemerintah kota yaitu, mesin giling kopi.

Mereka (Gen Z) punya keinginan, cuma tempat yang diinginkan itu belum disediakan oleh teman-teman pemerintah kota.

Nah, jelas Agung Prasodjo, kalau nggak salah itu sudah masuk ke kelurahan-kelurahan mesin gilingan kopi. Kalau itu mau didorong ya sudah dorong, kasih ruang dia. Karena sudah ada di sini, mesinnya sudah ada, sudah ada pelatihan.

Tinggal bagaimana dia berjualan, kata Agung, seiring dengan berjualan kan mesti ada yang diikuti dengan manajemen pemasaran, manajemen keuangan, seperti itu.

“Ini yang harus didorong, kalau pemerintah kota Surabaya betul-betul mau melaksanakan program itu supaya anggaranya diserap. Agar bisa diserap dan juga ada pertanggung jawabannya, jelas outputnya karena sudah terima pelatihan,”ungkapnya.

Disinggung apakah kurangnya sosialisasi, Agung Prasodjo mengatakan, mungkin pada waktu sosialisasi kurang jelas, baik yang melakukan sosialisasi atau yang menerima, harus kita luruskan dulu.

Sekarang kalau posisinya mereka di Pemkot, terang Agung, teman-teman eksekutif ini sudah memberikan ruang, sudah pelatihan, itu saja didorong.

Jadi yang jelas, tambah Agung, kemarin ada pelatihan pembuatan kopi, sudah ada mesinnya, kita sudah ngeluarin duit (anggaran) yaitu memberikan modal ini tinggal kasih ruang mereka di setiap kelurahan.

“Kalau ini sudah jalan itu buka aja. Dari 100 lebih Kelurahan, Gen Z di RW-RW ada yang buka usahanya separuh saja itu sudah bagus. Tapi nyatanya hari ini belum ada,”pungkasnya.(trs)