Imam Syafi’i Bantu Siswi SMKN 6 Surabaya yang Tidak Bisa Beli Seragam Sekolah

Imam Syafi’i Bantu Siswi SMKN 6 Surabaya yang Tidak Bisa Beli Seragam Sekolah

Surabaya, newrespublika-Anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Nasdem Imam Syafi’i mendatangi rumah siswi SMKN 6 Surabaya yang kesulitan membeli seragam sekolah, karena faktor biaya.

Politisi Partai Nasdem yang juga pernah menjadi jurnalis itu turun langsung membantu memenuhi kebutuhan sekolah Putri.

Pada Senin, 21 September 2026, Imam mendatangi koperasi SMKN 6 Surabaya. Ia melunasi kekurangan perlengkapan sekolah Putri, termasuk sejumlah seragam yang belum dimiliki.

“Putri, siswi kelas 10 SMKN 6 Surabaya ini juara Paskibraka, tetapi sempat tidak mampu membeli seragam sekolah. Sulung dari tiga bersaudara ini bahkan harus nyambi berjualan kue agar bisa membayar Lembar Kerja Siswa (LKS),” ujar Imam Syafii, Selasa (22/09/2026).

Imam menceritakan, disela waktu belajar, Putri berjualan aneka kue. Uang hasil jualan digunakan untuk membantu membayar Lembar Kerja Siswa (LKS). Kondisi ekonomi keluarganya memang cukup berat. Putri tercatat dalam kelompok desil 3 kemiskinan.

Keluarganya juga masih menumpang di rumah sang kakek. Tempat tinggal tersebut berada di sebuah gang sempit di kawasan belakang kampus UIN Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya.

Beban keluarga bertambah karena ayah Putri yang menjadi tulang punggung memiliki riwayat penyakit jantung kritis. Ia bahkan sudah dua kali mengalami serangan jantung. Meski begitu, sang ayah tetap bekerja sebagai petugas kebersihan atau cleaning service.

Penghasilannya disebut tidak sampai separuh Upah Minimum Kota (UMK) Surabaya. Sementara itu, ibu Putri ikut menopang kebutuhan keluarga dengan berjualan kue kucur. Sementara itu, ibu Putri ikut menopang kebutuhan keluarga dengan berjualan kue kucur.

Upaya membantu Putri sebelumnya juga datang dari lingkungan sekolah. Seorang kakak kelas memberikan seragam bekas yang masih layak pakai.

Namun, tidak semua seragam tersebut bisa digunakan. Perubahan desain atribut sekolah pada tahun ajaran baru membuat sebagian pakaian tidak sesuai lagi.

Saya sangat berterima kasih kepada kakak kelasnya yang sudah menyumbangkan seragam bekas layak pakai.

“Namun alhamdulillah, setelah dicek, seragam lungsuran itu tidak semuanya bisa dipakai karena ada perubahan desain,” ungkap legislator dari Partai Nasdem tersebut.

Beban keluarga bertambah karena ayah Putri yang menjadi tulang punggung memiliki riwayat penyakit jantung kritis. Ia bahkan sudah dua kali mengalami serangan jantung. Meski begitu, sang ayah tetap bekerja sebagai petugas kebersihan atau cleaning service.

Penghasilannya disebut tidak sampai separuh Upah Minimum Kota (UMK) Surabaya. Sementara itu, ibu Putri ikut menopang kebutuhan keluarga dengan berjualan kue kucur.

Upaya membantu Putri sebelumnya juga datang dari lingkungan sekolah. Seorang kakak kelas memberikan seragam bekas yang masih layak pakai. Namun, tidak semua seragam tersebut bisa digunakan. Perubahan desain atribut sekolah pada tahun ajaran baru membuat sebagian pakaian tidak sesuai lagi.

“Saya sangat berterima kasih kepada kakak kelasnya yang sudah menyumbangkan seragam bekas layak pakai. Namun alhamdulillah, setelah dicek, seragam lungsuran itu tidak semuanya bisa dipakai karena ada perubahan desain,” ungkap legislator dari Partai Nasdem tersebut.

Melihat kebutuhan yang masih tersisa, Imam kemudian membeli perlengkapan sekolah Putri secara langsung di koperasi sekolah. Bantuan itu mencakup seragam olahraga, seragam batik beserta bawahannya, serta seragam kotak-kotak dan bawahannya.

“Siang tadi langsung saya belikan kekurangannya di koperasi sekolah, mulai dari baju olahraga, baju batik beserta bawahannya, hingga baju kotak-kotak beserta bawahannya,” pungkas Imam Syafi’i.(trs)