Dimulai di Surabaya, Roadshow Cold Chain Dorong Efisiensi Logistik Jadi Kunci Daya Saing Industri Perikanan Nasional

Dimulai di Surabaya, Roadshow Cold Chain Dorong Efisiensi Logistik Jadi Kunci Daya Saing Industri Perikanan Nasional

Surabaya, newrespublika– Penguatan rantai dingin mulai jadi fokus utama sektor perikanan. Isu utamanya jelas. Biaya logistik tinggi dan kehilangan produk masih besar. Dari sini, efisiensi jadi kunci.

Roadshow Cold Chain Perikanan digelar di Surabaya. Forum ini mempertemukan pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri. Tujuannya satu arah. Menekan biaya dan menjaga kualitas produk.

Acara ini digelar oleh PT Wahana Kemalaniaga Makmur (WAKENI) bertajuk Roadshow International Indonesia Seafood & Meat Expo (IISM) & Indonesia Cold Chain Expo 2026 di Kampi Hotel Surabaya, Selasa, 7 April 2026.

Dihadiri oleh Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Machmud yang mewakili Ketua Tim Kerja Pemetaan dan Analisis Pasar Luar Negeri Ditjen PDSPKP, Helwijaya Marpaung.

Kemudian Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan & Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Saut Hutagalung.

Juga Wakil Ketua Bidang Cold Chain PPLI, Tejo Mulyono.

Direktur Utama PT Wakeni, Sofianto Widjaja membeberkan alasan Surabaya jadi lokasi pertama roadshow cold chain nasional.

“Surabaya dipilih sebagai lokasi roadshow karena posisinya yang strategis sebagai salah satu pusat distribusi, perdagangan, dan pengolahan seafood terbesar di Indonesia,” kata Sofianto di FGD Penguatan Rantai Dingin Perikanan untuk Ketahanan Pangan Indonesia.

“Dengan peran tersebut, Surabaya menjadi titik penting dalam memperkuat konektivitas rantai pasok nasional, khususnya untuk mendukung distribusi ke wilayah Indonesia Timur maupun pasar ekspor,” jelas Sofianto.

Forum di Surabaya ini mempertemukan masalah lama dengan solusi yang mulai dirumuskan bersama. Arah pembenahan kini makin jelas, dengan cold chain jadi kunci efisiensi dari hulu ke hilir.

Harapannya, biaya bisa ditekan, kualitas terjaga, dan daya saing industri perikanan terus meningkat.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Machmud, menekankan pentingnya penanganan sejak awal. Produk ikan sangat rentan rusak.

“Produk perikanan itu perishable, sangat cepat busuk sehingga harus segera ditangani sejak ditangkap atau dipanen,” ujar Machmud.

Tantangan di lapangan tidak ringan. Indonesia memiliki karakter geografis kepulauan. Distribusi dari wilayah timur ke Jawa masih mahal. Bahkan, ongkos kirim domestik bisa melampaui biaya ekspor.

“Biaya pengangkutan dari wilayah timur ke Jawa terkadang lebih mahal dibandingkan kirim ke Cina,” kata Machmud.

Dampaknya langsung terasa. Inefisiensi membuat harga sulit bersaing. Selain itu, kehilangan produk juga masih tinggi.

“Data menunjukkan sekitar 14,78 persen produksi ikan hilang dalam proses distribusi. Penyebabnya beragam. Mulai dari penanganan yang tidak tepat hingga keterbatasan infrastruktur pendingin,” sambung Machmud.

Dari sisi industri, tekanan biaya terus meningkat. Ketua AP5I, Saut Hutagalung, menyebut lonjakan ongkos logistik dan energi sebagai faktor utama.

“Terjadi pengalihan rute pelayaran yang menyebabkan lonjakan biaya transportasi hingga 40% – 60%,” beber Saut.

“Kondisi global juga ikut memperparah. Kenaikan harga bahan baku impor dan dampak konflik geopolitik membuat industri harus bertahan dengan efisiensi internal,” sambungnya.

Meski begitu, peluang pasar tetap besar. Produksi perikanan nasional sudah menembus lebih dari 13 juta ton. Pasokan tersedia. Tantangannya ada di distribusi dan kualitas.

“Di titik inilah cold chain menjadi penentu. Industri hilir menuntut standar mutu tinggi. Suhu harus stabil dari kapal hingga pabrik. Tanpa itu, peluang ekspor bisa hilang,” tutup Saut.

Upaya efisiensi mulai didorong dari sisi teknologi. Wakil Ketua Umum Bidang Cold Chain PPLI, Tejo Mulyono, menyoroti mahalnya mesin pendingin di tingkat hulu.

“ABF itu mahal. Ini yang coba kami dorong lewat inovasi agar lebih terjangkau,” ungkap Tejo.

“PPLI mulai mengembangkan solusi hemat energi. Konsumsi listrik cold storage berhasil ditekan hingga setara rumah tangga. Tahap berikutnya diarahkan ke energi surya untuk menekan biaya operasional,” pungkas Tejo.

Dorongan kolaborasi lintas sektor mulai menguat. Rantai pasok perlahan diarahkan lebih terintegrasi. Dari nelayan, pengolahan, logistik, hingga pasar.

Targetnya mulai terlihat realistis. Biaya bisa ditekan. Produk tetap segar. Daya saing meningkat.

Cold chain kini bukan lagi sekadar pendukung. Sistem ini mulai menjadi fondasi penting ekonomi perikanan nasional.(trs)