Penanganan Kebakaran di Surabaya Tahun 2022 Menurun

Penanganan Kebakaran di Surabaya Tahun 2022 Menurun

Surabaya, Respublika – Awareness atau kesadaran masyarakat terhadap keberadaan layanan Command Center (CC 112) milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meningkat. Hal tersebut terlihat dari data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya pada tahun 2021 dan 2022.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya,  Dedik Irianto menjelaskan, selain menangani kebakaran, pihaknya juga memiliki tupoksi dalam hal penyelamatan kedaruratan atau rescue. Menariknya, pada tahun 2022 jumlah penanganan kebakaran lebih rendah dari data penyelamatan.

“Masyarakat sekarang lebih awareness untuk melaporkan kejadian ke Command Center 112. Dan sekarang kecenderungan angka penanganan kebakaran menurun dari angka penyelamatan,” kata Dedik Irianto, Jumat (13/1/2023).

Dedik menjabarkan, bahwa pada tahun 2021, penanganan kebakaran yang dilakukan DPKP Surabaya sebanyak 644 peristiwa. Sedangkan di tahun 2022, penanganan kebakaran turun menjadi 614 kejadian.

Hal tersebut, kata dia, berbanding terbalik dengan angka penyelamatan atau rescue yang justru meningkat tajam di tahun 2022. Dimana pada tahun 2021, DPKP Surabaya melakukan evakuasi 655 kejadian dan kemudian meningkat pada tahun 2022 menjadi 1.400. “Kejadian evakuasi peningkatannya 100 persen. Dan ini menandakan masyarakat banyak yang sudah aware terkait Command Center 112,” ungkapnya.

Selain lebih aware terhadap layanan Command Center 112, Dedik mengungkapkan, bahwa respon warga terhadap peristiwa kebakaran juga meningkat. Data DPKP Surabaya tahun 2020, respon warga terhadap kebakaran tercatat 39 persen dan meningkat di tahun 2021 menjadi 43 persen. Sedangkan di tahun 2022, angka respon warga terhadap kebakaran juga tercatat 43 persen.

“Artinya yang 43 persen itu sudah dipadamkan oleh warga. Jadi petugas kita datang, api sudah mati dipadamkan oleh warga, tinggal kita melakukan pembasahan atau pengecekan,” terang Dedik.

Menurut Dedik, persentase kenaikan respon warga terhadap kebakaran tak lepas dari masifnya sosialisasi dan simulasi pelatihan yang dilakukan. Sejak beberapa tahun lalu, pemkot melalui DPKP dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), memang gencar memberikan pelatihan mitigasi bencana kepada masyarakat.

“Jadi artinya, sosialisasi kita, simulasi yang kita lakukan, warga bisa menanggapinya dengan baik. Sehingga sekarang (kebakaran) banyak yang bisa dipadamkan sendiri oleh warga. Warga sudah bisa melakukan pemadaman api sendiri,” paparnya. (*)

 

Jalankan Tugas Kedaruratan, Petugas DPKP Surabaya: Nyemplung Sumur Cari Dompet Nenek Hilang hingga Evakuasi Ular Mainan

Banyak kejadian unik dan menarik yang dialami jajaran Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya saat melakukan evakuasi kedaruratan. Bahkan, data evakuasi kejadian pada tahun 2022, meningkat menjadi 1.400 dari tahun 2021 sebanyak 624 peristiwa.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya,  Dedik Irianto menceritakan beragam kisah unik dan menarik yang pernah dialami jajarannya. Kejadian itu dialami oleh para personelnya saat membantu warga melakukan beragam evakuasi penyelamatan kedaruratan atau rescue.

“Penyelamatan itu dalam arti kita membantu dalam hal terkait kedaruratan. Artinya, kedaruratan yang bisa mengancam jiwa, bisa mengancam kerugian materi atau kerugian materil,” kata Dedik Irianto, Jumat (13/2/2023).

Namun demikian, tak sedikit kejadian menarik yang pernah ditangani personel DPKP Surabaya. Seperti di antaranya saat membantu mengambil kunci sepeda motor warga yang jatuh ke dalam saluran gorong-gorong saat tengah malam. “Pernah ada saat malam hari itu warga hubungi kami, kontak kunci kendaraannya masuk ke dalam gorong-gorong. Itu ya tetap kita layani, kita bantu,” cerita Dedik.

Tak hanya itu, Dedik mengatakan, pihaknya juga beberapa kali mengevakuasi kucing terjebak di atas pohon hingga membantu warga melepas cincin yang menyangkut di jari tangan. Bahkan, juga pernah membantu mencarikan dompet milik seorang nenek yang masuk ke dalam sumur.

Dedik kembali menceritakan, saat itu ada warga yang menghubungi Command Center 112 untuk meminta pertolongan mengambil dompet di dalam sumur. Namun setelah dicari di dalam sumur, ternyata dompet itu tidak ada.

“Ternyata setelah dicari teman-teman nyemplung ke dalam sumur tidak ada dompetnya. Akhirnya tidak ketemu setelah dicari-cari di dalam sumur, dan ternyata orangnya sendiri lupa menaruhnya di mana,” ujarnya.

Selain pernah nyemplung mencari dompet di dalam sumur, kejadian-kejadian lucu juga tak luput dialami jajaran DPKP Surabaya selama tahun 2022. Dedik menyebut, setidaknya pernah dua kali jajarannya melakukan evakuasi ular di dalam rumah yang ternyata hanya berupa mainan.

Pertama, evakuasi dilakukan saat hari kedua perayaan Hari Raya Idul Fitri Tahun 2022. Ketika itu ada warga yang meminta bantuan CC 112 untuk mengevakuasi ular di dalam rumah. Sebab, saat itu rumah hanya ditinggali seorang Asisten Rumah Tangga (ART) dan majikannya tengah pergi ke luar kota.

“Dia (ART) sudah dua hari tidak berani masuk ke rumah karena ada ular di bawah kasur, akhirnya tetangga menyarankan untuk telepon CC 112. Nah, setelah kita datang dan melakukan evakuasi, ternyata itu hanya ular mainan,” terang Dedik.

Kejadian yang sama juga pernah dialami personel DPKP Surabaya pada bulan Desember tahun 2022. Bedanya, kali ini ular yang dilaporkan oleh warga posisinya berada di atas lemari di dalam rumah. Ternyata setelah dijepit menggunakan snake stick atau tongkat penjepit ular, rupanya hanya mainan. “Itu pernah terulang lagi di Desember 2022 kemarin, yang ternyata ular mainan. Ketika dicubit pakai stick, ternyata itu hanya ular mainan,” katanya.

Meski demikian, Dedik memastikan bahwa apapun kejadian kedaruratan yang dilaporkan oleh warga, tetap akan dilayani. Dan, seluruh layanan evakuasi kedaruratan yang diberikan oleh Pemkot Surabaya ini bersifat gratis atau tidak ada biaya.

“Apapun itu kejadian kedaruratan yang dilaporkan oleh warga, kita tetap layani. Karena evakuasi penyelamatan ini juga menjadi bagian dari penilaian Indikator Kinerja Operasional (IKO) kita,” pungkasnya. (trs)