Surabaya, newrespublika-Komisi C DPRD Surabaya mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya untuk mengelola sampah berbasis sumber yaitu, pemilahan sampah sebelum diangkut ke tempat pembuangan akhir.
Hal tersebut mengingat beban sampah di TPA Benowo semakin besar.
Ketua Komisi C, Eri Irawan mengatakan, total timbunan sampah di Surabaya sekitar 1.800 ton sampah per hari. Nah itu mayoritas itu tidak dipilah dan tidak diolah.
“Ini menyebabkan dua hal pertama, beban di TPA itu semakin berat. Maka kemarin kita melihat fenomena banyak sampah ngetem di TPS, ini juga menimbulkan biaya pengangkutan yang sangat besar ke TPA,” ujar Eri Irawan di Surabaya, Kamis (07/05/2026).
Yang kedua, sambung Eri Irawan, terutama sampah organik. Karena dari 1.800 ton sampah 60%nya adalah sampah organik. Sampah organik ini ketika terlalu lama mengendap di TPA akan menimbulkan yang namanya Gas Metana, yang mempercepat krisis iklim.
Jadi, kata Eri Irawan, ini sama-sama berbahaya. Kalau kita lihat berita nasional satu-dua hari ini dimana TPA Bantar Gebang Bekasi itu kan udaranya disebut sangat berbahaya karena timbunan sampah.
Mengapa, jelas Eri, karena ya itu tadi tidak ada pemilahan dan pengolahan yang ada di sumbernya. Sumbernya itu apa ya rumah tangga Kemudian tingkat RT, RW, tingkat komunitas, tingkat sekolah, hotel, restoran dan segala macam.
“Maka Komisi C itu mendorong DLH Kota Surabaya untuk memperkuat pemilahan pengolahan sampah berbasis sumber,” ungkap Eri Irawan
Dirinya mengungkapkan, selama ini kita mikirnya itu kan dihilirnya pokoknya dikirim ke TPA. Padahal sebenarnya masalah sampah ini harus diselesaikan berbasis sumber.
Maka, lanjut Eri Irawan, dalam waktu dekat ini Pemkot akan membagikan komposter di setiap RW kemudian wadah dengan lubang-lubang biopori (Biopori juga dapat mengubah sampah organik menjadi kompos) itu juga nanti di tiap RT dan RW.
“Insyaallah tidak lama lagi akan diluncurkan oleh Pemkot. Nah ini gerakan-gerakan ini perlu terus kita dorong,” terangnya.
Dan saya sendiri, kata Eri Irawan, secara pribadi sudah menggerakkan ini dinlingkungannya dalam beberapa bulan terakhir. Itu kita menyediakan tampungan botol plastik di beberapa RW binaan, terus biopori, kemudian komposter. Sehingga nanti semakin sedikit sampah yang harus kita buang ke TPA.
Dan ni juga harus diiringi dengan perubahan DLH, beber Eri, DLH ini kan mendorong pemilahan sampah berbasis sumber. Tetapi bantuan yang diberikan DLH selama ini itu tidak mencerminkan itu. “Baru kali ini akan ada bantuan komposter dan biopori,” pungkasnya. (trs)
