Surabaya, newrespublika- Momen konsolidasi PDIP di Kecamatan Rungkut mendadak terasa berbeda. Bukan cuma kumpul kader biasa, tapi jadi ajang munculnya generasi baru “trah banteng” Surabaya yang mulai dikenalkan langsung ke akar rumput.
Ada Fauzan, putra mantan Ketua DPC PDIP Surabaya Saleh Mukadar. Ada Sangaji, anak almarhum Adi Sutarwijono mantan Ketua DPRD Surabaya yang juga mantan Ketua DPC PDIP Surabaya. Juga Dewa, putra almarhum Whisnu Sakti Buana yang pernah menjabat Wakil Wali Kota Surabaya sekaligus Ketua DPC PDIP Surabaya.
Menariknya, ketiganya tampil bareng di hadapan PAC, ranting, hingga anak ranting se-Rungkut. Suasananya pun cair, penuh cerita, nostalgia, sekaligus sinyal kuat soal regenerasi politik PDIP Surabaya menuju 2029.
Fauzan terang-terangan bicara soal pentingnya Gen Z masuk struktur partai. Ia bahkan menyebut anak muda harus mulai mengambil peran karena pemilih terbesar 2029 nanti adalah Gen Z dan Gen Alfa.
“Bukan cuma anak biologis, tapi juga anak ideologis,” ucap Fauzan disambut tepuk tangan kader, Jumat (05/06/2026).
Sementara Sangaji tampil kalem namun menyentuh. Ia mengaku baru mulai aktif di partai setelah sang ayah meninggal dunia.
“Ini mungkin langkah awal saya meneruskan perjuangan bapak,” katanya.
Di sisi lain, Dewa yang dikenal santai justru bikin suasana pecah dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan penuh humor. Meski singkat, kemunculannya langsung mencuri perhatian kader senior maupun anak muda.
Yang bikin suasana makin emosional, Anas
Karno beberapa kali mengenang sosok almarhum Whisnu Sakti Buana dan Adi Sutarwijono. Ia menyebut pertemuan itu bukan sekadar kumpul kader, tapi “merajut lagi benang merah” perjuangan PDIP Surabaya.
“2029 itu sebentar. Regenerasi harus disiapkan mulai sekarang,” ujar Wakil Ketua Bidang Advokasi dan Hukum DPC PDI Perjuangan Surabaya tersebut.
Ia juga mengingatkan kader agar tak lagi terjebak kubu-kubuan internal. “Wis enggak ono kelompok-kelompokan. Tujuannya satu, memenangkan PDIP,” tegasnya.
Sejumlah kader yang diantaranya Gen Z mengaku antusias melihat generasi penerus tokoh-tokoh besar PDIP mulai aktif turun ke bawah. Bahkan beberapa kader senior menyebut suasana malam itu mengingatkan mereka pada masa-masa konsolidasi bersama para orang tua mereka dulu.
“Rasanya seperti melihat perjuangan para senior hidup lagi” ujarnya.
Kemunculan anak-anak tokoh besar PDIP Surabaya ini langsung jadi perbincangan kader. Banyak yang menilai, inilah tanda mesin regenerasi banteng mulai benar-benar dipanaskan untuk menghadapi pertarungan politik mendatang. (trs)
