(Baktiono menunjukkan hasil karya foto-foto kader PDI Perjuangan saat diperlakukan represif di pemerintahan zaman orde baru 30 tahun lalu). Foto: Trisna
Surabaya, newrespublika-PDI Perjuangan setiap tanggal 27 Juli selalu memperingati peristiwa tahun ini memasuki 30 tahun Kudatuli.
Di Surabaya peringatan 30 tahun Kudatuli digelar di Posko Perjuangan Pandegiling Surabaya dengan menghadirkan pameran sejarah foto-foto saat kader dulu bernama PDI (Partai Demokrasi Indonesia) yang kini PDI Perjuangan, berjuang mempertahankan represif pemerinyah berkuasa terhadap PDIP.
Dibalik perjuangan tersebut ada kader PDI Perjuangan yaitu Baktiono yang mampu mengabadikan setiap moment pergerakan PDI di Surabaya 30 tahun lalu. Baktiono kini masih menjabat Anggota DPRD Surabaya periode 2024-2029.
Bagaimana kisahnya saat itu, Reporter Trisna melakukan wawancara dengan Baktiono di Surabaya, Jumat 24 Juli 2026. Ini kutipannya:
Memang sebelumnya Pak Baktiono hobby foto atau bagaimana?
Saya dulu sebagai aktivis, suka fotografi, sehingga agenda-agenda PDI itu saya dokumentasi. Tidak ada yang menyuruh karena hobi karena senang dengan Ibu Megawati, keluarga Bung Karno.
Jadi bangga untuk mendokumentasi setiap kegiatan PDI terutama yang ada di Surabaya, Jawa Timur. Itu pasti saya dokumentasi, dan koleksinya ribuan. Makanya di film-film (dulu rol film) ini, jumlahnya ribuan file foto.
Bagaimana cara merawat foto nya?
Usia foto ini 30 tahun lebih masih nyimpan dan ini kami simpan dengan rapi, dan kami rawat dan memang sebagian positifnya (klise bahan untuk cetak foto) hasilnya itu banyak.
Secara bertahap nanti juga akan kami cetak lagi kami jadikan flashdisk lagi. Memang sudah ada flashdisk dari film-film ini waktu itu sampai dua bulan lebih kami untuk memfail dari negatif film ke flashdisk, dan sudah saya serahkan waktu itu ke Mas Prananda Prabowo anaknya Ketum PDIP Megawati.
Lalu?
Jadi sudah ada file nya dan untuk di Surabaya ini masih belum waktu itu saya file ketelisut sehingga saya membuat file baru lagi, Jadi untuk sebagian besar memang sudah ada di teman-teman di Posko Pandegiling untuk Promeg (Pro Mega) Jawa Timur dan Promeg Surabaya untuk bisa ditampilkan sebagai bahan kenangan perjuangan teman-teman yang lama.
Apakah foto-foto karya Pak Baktiono akan ditampilkan dalam pameran sejarah di Posko Pandegiling saat perayaan Kudatuli 27 Juli ?
Saya turut hadir dalam pameran-pameran foto, oleh karena itu dalam flashback 30 tahun yang lalu generasi yang baru atau kalau bisa disebut Gen Z kalau saya menyebut generasi Omega, selain itu Alpha dan Omega saya sudah menyebut generasi U atau Omega kebetulan sama nama agar mereka ingat kepada para pejuang, pendiri partai ini.
Mereka dulu berjuang tanpa lelah, mereka datang, kadang belum makan, kadang mereka jalan, ada yang naik sepeda ontel, naik sepeda motor, gandol mobil, gandol truk.
Dan ada juga yang hutang, ada mereka yang jual ayam, jual kambing, ada yang kredit kaos bergambar Bu Mega dulu. Ada kader PDI yang diculik belum kembali, ada yang korban darahnya mencucur karena dipukulin aparat saat itu.
Jadi banyak dokumen foto-foto saya abadikan sendiri dengan lensa kamera SLR Nikon yang saya punya. Dokumen-dokumen ini mengingatkan agar generasi berikutnya itu bisa menikmati dan juga bisa mempertahankan ini. Dan bagi penguasa jangan sampai semena-mena seperti yang kami alami Kantornya didobrak, kantornya dirusak, juga kader-kadernya dilarang untuk konsolidasi, untuk rapat pun dikejar-kejar.
Jadi padahal kita semua ingin kondisi demokrasi itu lebih baik. Bukan untuk kudeta, cuma kita melakukan hal seperti ini agar menginginkan negara ini pada rel yang benar sesuai dengan aturan konstitusi dan demokrasi Pancasila.
Pesan apa yang akan disampaikan Pak Baktiono ke publik terkait pameran foto perjuangan kader PDI saat zaman orde baru ?
Untuk publik jadi apa yang kami tampilkan nanti itu juga bisa dikenal juga oleh khalayak banyak, dan bagi masyarakat umumnya bagi siapapun bahwa di Indonesia, kami pejuang-pejuang di PDI Pro Megawati.
Ini adalah cikal bakal dari reformasi. Dan kita menginginkan reformasi ini pada rel yang diinginkan warga masyarakat, yang diinginkan oleh teman-teman yang berjuang, kalangan mahasiswa waktu itu. dan juga anak-anak muda dan seluruh warga se-Indonesia.@
