Komisi C DPRD Surabaya Sebut Pengerjaan Proyek Fisik di Surabaya Masih 11 Persen

Komisi C DPRD Surabaya Sebut Pengerjaan Proyek Fisik di Surabaya Masih 11 Persen

Surabaya, newrespublika-Komisi C DPRD Surabaya menyebut pengerjaan proyek fisik di Surabaya masih 11 persen, terutama proyek penanganan banjir.

Wakil Ketua Komisi C, Aning Rahmawati mengatakan, untuk proyek penanganan banjir relatif kecil prosentasenya, apalagi sudah ada prediksi dari BMKG yang menyatakan potensi banjir bisa sampai Februari 2027.

“Yang dikhawatirkan adalah banyaknya pekerjaan-pekerjaan yang belum selesai, karena mungkin sumber pembiayaannya itu dari hutang,” ujar Aning Rahmawati, Selasa (29/09/2026).

Ia menambahkan, saat ini yang perlu diantisipasi sejak dini oleh Pemkot Surabaya adalah terkait dengan pekerjaan-pekerjaan proyek di seluruh kota Surabaya yang sampai dengan hari ini mungkin prosentasinya masih kecil.

Karena terakhir kemarin kita cek ke DSDABM Kota Surabaya, kata Aning, pengerjaannya itu masih di angka 11 atau 12 persen untuk yang bersumber dari pembiayaan.

Nah, tegas Sekretaris Fraksi PKS ini, kami berharap Jangan sampai nanti justru upaya penanganan banjir dengan proses pembangunan itu malah menimbulkan banjir ketika pekerjaan itu belum selesai.

Contoh, beber Aning, di beberapa tempat di Rungkut dekatnya rumah pompa itu juga masih belum selesai. Dan kalau mau diakui merinding lihatnya kalau sampai musim hujan datang dan belum selesai pembangunan rumah pompa.

Jadi, tambah Aning, saluran tidak berfungsi karena tertutup pembangunan site pile yang membuat saluran itu penuh dengan tanah dan belum dibersihkan justru menimbulkan titik banjir baru.

“Dan itu banyak proyek karena anggaran untuk infrastruktur pembangunan banjir di 2026 lumayan besar dan serapannya masih belum tampak bagus, terutama yang bersumber dari pinjaman itu masih di angka 11-12 persen,” terangnya.

Harapan kami di Komisi C, ungkapnya, kedepan betul-betul pemerintah kota melakukan antisipasi Kalau memang pekerjaan itu diprediksi memang belum selesai sampai dengan musim penghujan,  harus antisipasi lintas UPD, bagaimana di titik-titik yang rawan banjir itu jangan sampai menjadi titik banjir baru karena pembangunan belum selesai.

Dan sekali lagi tadi tidak menimbulkan titik banjir baru, ungkap Aning, karena proses pembangunan belum selesai itu yang harus diwaspadai, harus jelas sejak awal apakah lintas OPD misalnya biasanya kan pakai Damkar kemudian juga pakai Satgasnya DLH Kota Surabaya, Satgasnya DSDABM berkolaborasi.

Jadi, kembali tegas Aning, tim pengendali banjir itu harus disiapkan sejak sekarang, jangan sampai Justru pembangunan itu menjadi titik banjir baru yang meresahkan masyarakat.

Ditanya bahwa Pemkot Surabaya menargetkan pembangunan 6 rumah pompa, Aning mengatakan, pembangunan rumah pompa itu on the track ya sampai akhir tahun 2026.

“Terpenting saat ini diperlukan kolaborasi antar OPD dalam setiap pengerjaan proyek penanganan banjir,” pungkasnya.(trs)