Kediri, newrespublika-Kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kediri dan Putera Sampoerna Foundation (PSF) menghadirkan Lighthouse School Program (LSP) Berasrama di SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School untuk memberikan pendidikan transformatif bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Setelah tiga tahun berjalan, program ini mencapai tonggak pertamanya: Kelulusan Angkatan Pertama dengan persentase kelulusan ke PTN melalui SNBT tertinggi di Kabupaten Kediri, sebesar 73,21%.
Capaian ini membuktikan bahwa intervensi sistemik mampu mengubah ketertinggalan menjadi keunggulan.
Para lulusan diterima di sejumlah perguruan tinggi negeri ternama, di antaranya Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Jember, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Sebelas Maret (UNS), serta sejumlah perguruan tinggi negeri lainnya.
Juliana, Head of Program & GuruBinar Putera Sampoerna Foundation mengatakan, bagi PSF, hasil ini membuktikan bahwa LSP dapat membantu siswa dari latar belakang paling tertinggal sekalipun.
PSF, kata Juliana, percaya intervensi yang menyentuh setiap lapisan ekosistem sekolah, dari tata kelola, kepemimpinan, guru, hingga program asrama, adalah kunci perubahan yang bertahan lama.
“Pendidikan adalah instrumen untuk mendorong mobilitas sosial dan memutus rantai kemiskinan struktural dan antargenerasi. Pendidikan tidak hanya mengubah satu siswa, tapi juga keluarga dan generasi berikutnya,” ujar Juliana di Kediri, Minggu (14/06/2026).
Juliana menjeladkan, kehadiran LSP adalah hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kediri, PSF, sekolah, guru, dan orang tua siswa.
Berkat program yang dirancang untuk memberikan dampak berkelanjutan, sambung Juliana, SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School kini menjadi referensi pendidikan bagi sekolah lainnya, termasuk Sekolah Rakyat di Kabupaten Kediri dan sekitarnya.
“Kami berharap program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa dan guru, tetapi juga mendorong mereka menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi komunitasnya. Kami juga berharap kolaborasi ini dapat menjadi model praktik baik yang direplikasi di berbagai daerah, sehingga semakin banyak sekolah yang mampu mencetak lulusan unggul, berdaya saing, dan siap meraih masa depan yang lebih baik, apapun latar belakang mereka,” ungkap Juliana.
Ia menjelaskan, latar belakang siswa angkatan pertama, berasal dari keluarga miskin dan sangat miskin yang sebelumnya bahkan tidak termotivasi melanjutkan ke perguruan tinggi.
“Meski demikian, dari total 126 siswa, sebanyak 101 atau sekitar 80% telah diterima di berbagai perguruan tinggi negeri, sementara 25 lainnya masih menantikan hasil seleksi perguruan tinggi dan sekolah kedinasan,” beber Juliana.
Sementara itu Ahmad Riziq Mubarok, S.Pd., Kepala SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School, menilai capaian ini adalah hasil dari proses transformasi yang dilakukan secara konsisten selama tiga tahun terakhir.
“PSF membantu mengubah cara sekolah bekerja. Kami menjadi lebih terarah dalam memantau kemajuan siswa, lebih konsisten dalam proses pembelajaran, dan lebih fokus pada perkembangan siswa secara bertahap. Hasilnya, bukan hanya kemampuan akademik siswa yang tumbuh, tapi juga kepercayaan diri dan keberanian untuk meraih cita-cita yang sebelumnya terasa di luar jangkauan,” terang Ahmad.
Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Kediri sejak program ini dimulai pada Mei 2023. Dr. Mohamad Solikin, M.AP., Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kediri mengungkapkan,
Di Kabupaten Kediri, jelas Solikin, angka kemiskinan dari kategori desil 1 dan desil 2 cukup tinggi. Hal ini menyebabkan sekitar 10 ribu anak putus sekolah.
Program yang kami terapkan di SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School merupakan salah satu bukti nyata upaya Pemerintah Kabupaten Kediri dalam memutus rantai kemiskinan.
“Ke depannya, bukan tidak mungkin program ini direplikasi lebih luas ke jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama sesuai dengan kebutuhan masyarakat.” tutup Solikin. (trs)
