DPRD Surabaya Minta Penyelidikan Menyeluruh Viralnya Video Limbah Medis B3

DPRD Surabaya Minta Penyelidikan Menyeluruh Viralnya Video Limbah Medis B3

Surabaya, newrespublika-Komisi D DPRD Surabaya meminta Pemkot untuk menyelidiki viralnya video limbah medis yang mendeskreditkan salah satu rumah sakit daerah milik Pemkot Surabaya.

Anggota Komisi D, Dr. Michael Leksodimulyo mengakui jika dirinya langsung turun ke lokasi pembuangan limbah medis B3 di pintul tol Tambak Sumur Pondok Chandra Sidoarjo yang viral videonya.

Ia menjelaskan, Rabu (26/08/2026) Jam 8 pagi kami melihat apakah ada pembuktian tercecernya sampah bekas limbah medis dari RSUD Eka Chandrarini (EC).

“Begitu kami datang langsung kami lihat penyerahan sampah medis rumah sakit ke pihak ketiga. Ternyata semuanya sesuai dengan prosedur, kemudian itu bisa di tracking,” ujar Dr. Michael Leksodimulyo.

Kemudian, sambungnya, yang berikut kami minta lagi SOP, apakah SOP-nya sesuai enggak? Ternyata sesuai. Kemudian yang kedua, bukti-bukti barang-barang yang kita ambil tadi malam.

Jadi kita siapkan mereknya berbeda, terang Dr. Michael, satu nipro satu onemed. Kemudian yang kedua, file dari obat yang satu dari PT. Deksa yang satu bukan, yang PT Deksa itu yang di RSUD EC.

Kemudian yang ketiga, RSUD EC tidak menerima pelayanan dari KB. Oleh sebab itu, kami meminta lagi MOU untuk pihak yang bekerja sama dengan RSUD EC.

Maka, tegas politisi PSI Kota Surabaya ini, kami yang sudah 2-3 kali setiap bulan melakukan pengawasan di rumah sakit daerah secara kontinu.

“Dan kami juga menyarankan ada tindakan penyelidikan untuk melihat motifnya apa. Untuk menjatuhkan fasilitas pemerintah, terutama di rumah sakit EC, dan menjatuhkan pamor dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya,” tegasnya.

Dr. Michael menambahkan, kejadian ini pasti ada motif dan ini kami serahkan ke pihak kepolisian. Hal semacam ini jangan diberhentikan kasusnya, tetapi harus dicari tahu karena ini memalukan Kota Surabaya terutama.

Dirinya kembali mengatakan, kalau saya lebih ekstrim lagi, itu bukan dibuang dan tercecer, tapi itu disiapkan untuk motif tertentu. Jadi ini yang paling penting adalah, itu dibuka, ditata, kemudian ada satu kertas obat yang tadi serowaste sehingga memakai identitas RSUD EC Eka itu ditaruh di muka di atasnya.

Kemudian, kata Dr. Michael, di video yang viral, itu ada dua sebenarnya. Yang satu video yang ada kertasnya RSUD Eka Candrarini, yang satu itu tidak ada identitas RSUD Eka Chandrarini.

Jadi waktu ditemukan itu, sambungnya, tidak ada itu kertas Eka Candarininya itu tidak ada.

“Tapi di video yang kedua yang viral itu benar-benar tertata betul bahwa disini ada sampah dari RSUD Eka Chandrarini, ini betul-betul fitnah,” ungkapnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan merek spuit atau jarum suntik yang ditemukan bersama ribuan limbah medis Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di saluran air sisi kiri exit Tol Tambak Sumur, Sidoarjo, bukan merupakan merek yang digunakan Rumah Sakit Umum Daerah Eka Candrarini (RSUD EC).

Kepastian tersebut disampaikan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya melakukan pengecekan di lokasi bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, serta pihak RSUD EC pada Selasa (25/8/2026).

“Jadi terkait limbah rumah sakit, kita tidak pernah punya spuit merek itu. Yang kedua, ada bungkus di sana. Bungkus itu adalah bungkus obat, bukan bungkus terkait spuit,” ujar Wali Kota Eri di Balai Kota Surabaya, Rabu (26/8/2026).(trs)