Surabaya, newrespublika-Komisi B DPRD Surabaya mendesak kepada Pemerintah Kota Surabaya agar menjelaskan ke publik, terkait belum beroperasinya Rumah Potong Hewan (RPH) Tambak Osowilangun (TOW).
Sebelumnya, Pemkot Surabaya menjadwalkan transisi pemindahan penuh dilakukan secara bertahap seusai Hari Raya Idul Fitri dan libur Iduladha 2026.
Anggota Komisi B DPRD Surabaya dari Fraksi PDIP, Baktiono mengatakan, belum beroperasinya RPH Tambak Osowilangun Pemerintah kota juga harus bisa memberikan keterangan ke publik.
“Keterangan ke publik ini apakah memang di sana masih belum siap dioperasionalkan alasannya harus disampaikan,” ujar Baktiono di Surabaya, Selasa (02/06/2026).
Ia menambahkan, apa persiapan para pedagang ini juga masih perlu untuk disesuaikan juga perlu disampaikan, apakah memang menunggu setelah hari raya idul korban, kalau hari raya idul korban kan sudah selesai.
Baktiono menerangkan, jadi apa yang disampaikan dalam rencana pembangunan RPH itu sudah matang dan juga sudah disampaikan ke publik, juga disampaikan ke Komisi B bahwa RPH yang ada di Pegirian itu akan dipindah di RPH Tambak Osowilangun.
Dirinya menjelaskan, rumah potong hewan di sana juga dilengkapi dengan berbagai alat untuk potong hewan secara higienis, dan juga menyediakan angkutan bagi para pejagal yang ada di sana.
“Dan memudahkan juga para pejagal luar kota bisa langsung dari tol tidak masuk ke kota tapi langsung disembelih di RPH Tambak Osowilangun,” jelas anggota dewan enam periode ini.
Lebih lanjut Baktiono mengatakan, berikutnya juga difasilitasi dari RPH dimana daging yang sudah dibagi-bagi, dipotong, itu bisa didistribusikan ke pasar-pasar yang ada di kota Surabaya, sesuai dengan keinginan para pejagal.
Oleh karena itu, kata politisi senior PDIP Kota Surabaya ini, maka ketelambatan operasional RPH Osowilangun ini harus disampaikan ke publik.
Agar, sambungnya, masyarakat nanti semakin tahu kalau dijelaskan oleh pemerintah kota, dan kalau para pejagal itu saya yakin mereka sudah mempersiapkan sebaik mungkin kalau nanti sampai ada perpindahan RPH dari Pegirian ke RPH Tambak Osowilangun.
Ditanya apakah masih ada pro kontra dari para pejagal, Baktiono mengatakan, kalau pro kontra itu sudah selesai. Sudah selesainya apa? Ya diselesaikan secara musyawarah baik di luar komisi sampai di komisi.
Dan sudah dicarikan solusi yang terbaik, terang Baktiono, bahkan Pemkot juga bisa memfasilitasi sampai tengah malam dan pagi bisa dioperasionalkan.
Bahkan, tegas Baktiono, RPH juga menyediakan tempat pendingin atau cool storage agar daging-daging itu tetap segar. Dan daging-daging itu bisa didistribusikan baik ke supermarket, ke pasar-pasar maupun ke mereka yang memang membutuhkan daging banyak untuk kebutuhan sehari-hari
Sekarang yang penting pemerintah kota harus mempublikasikan, membuat pernyataan, kenapa terlambat ya pemerintah kota sendiri karena disanalah sebagai pusat eksekutornya.
“Jadi kalau keterlambatan sih itu wajar, tapi juga harus disampaikan ke publik,” pungkasnya. (trs)
